Dunia Kata-Kata Ku

Kumpulan tulisan sendiri dan beberapa tulisan lainnya yang menarik

Aku 30 Maret 2010

Filed under: Cerpen — chimutluchu @ 7:12 AM

Aku seorang petualang ruang dan waktu yang melanglang buana ke segala penjuru dunia demi mencari sari-sari ilmu, tak luput keping-keping uang. Semua kulakukan demi impianku tuk ikut memajukan bangsa dan negaraku.
Walau ku tahu tak ada yang mengharapkan maupun membanggakanku serta tak ada lagi tempat untuk pulang, saat kembali ke negaraku nantinya. Namun panggilan hatiku sebagai anak bangsa, menuntutku tuk melakukan semua itu.

Sepuluh tahun yang lalu, terpaksa aku tinggalkan tanah kelahiran yang sangat ku cintai. Tak ada guna lagi aku tinggal disini. Ingin rasanya aku kuliah, namun hal itu sulit untuk diwujudkan, karena universitas di seluruh negaraku tak sudi menerima lulusan Ujian A1 (siswa yang lulus setelah mengulang kembali), selain itu, panti asuhan tempatku tumbuh, terpaksa ditutup.
Aku bisa saja bekerja, namun itupun hanya pekerjaan kelas bawah yang menggunakan otot bukan otak, dan aku tak menginginkannya.

Dan kini aku telah merasa cukup dengan apa yang ku raih. Sekaranglah saatnya tuk kembali. Dalam pikiranku, ku yakin dan optimis tuk mewujudkan impianku, karena pastinya keadaaan tanah airku telah berubah semenjak ku meninggalkannya.
Namun, begitu ku jejakkan kaki ini kembali di tanah yang kurindu, rasa kecewa menohok ulu hatiku. Semua kenyataan di pelupuk mataku kini, berbeda seratus delapan puluh derajat dari pikiranku selama ini. Ku lihat wajah-wajah pribumi yang tak bersemangat menghiasi berbagai penjuru tanah kelahiranku. Sementara itu, wajah-wajah asing tampak berseri merona.
“Apa yang terjadi ?” jeritku dalam hati.
Ku dekati salah seorang pemuda yang terduduk lesu di pelataran parkir bandara. Ku ucapkan salam padanya, Ia tampak terkejut.
“Iya, kenapa pak ?” jawabnya setengah terkejut.
Akupun terlarut dalam obrolan yang dalam dengan pemuda itu. Aku betul-betul kaget mendengar semua cerita yang mengalir dari bibirnya yang kelu itu.
Ya, tak ada pilihan lain baginya, bila masih ingin hidup, maka Ia harus bekerja keras dan mendapat gaji yang tak sepadan. Selain pemuda itu, banyak juga yang senasib dengannya, tapi bagi kaum hawa mereka betul-betul terpuruk. Kebanyakan dari mereka terpaksa menikah untuk menyambung hidupnya, mereka berusaha bertahan walau pernikahan itu bak neraka.
Semua ini terjadi karena satu sistem yang sangat dibanggakan oleh para penguasa, ya tak lain lagi sistem itu adalah Ujian Penyetaraan Tingkat Tinggi, semua pelajar harus mengikutinya, agar dapat lanjut ke jenjang berikutnya.
Mereka berkata, sistem ini hebat dan sebagai standarisasi serta indikator kepintaran masyarakat di negaraku. Kata mereka pula, dengan sistem ini, masyarakat negaraku dapat bersaing dengan masyarakat negara lain. Tapi, ini semua palsu. Sistem ini hanya tameng, agar para penguasa yang mengeruk keping-keping kekayaan dapat beraksi dengan leluasa dan tanpa gangguan sedikitpun.

Akibatnya, rencanaku melenceng jauh. Semula aku berpikir, bahwa mudah saja untuk membangun bangsa ini, dengan menggunakan cara yang rapi dan halus. Namun, ku harus memulai perubahan dengan cara yang agak sulit.
Proyek pribadiku yang telah ku batalkan, harus aku mulai lagi, yaitu proyek pembuatan mesin waktu. Selama berbulan-bulan aku mengerjakannya di rumah kecil yang berada di pinggiran kota. Orang-orang memandangku sinis, karena mereka menganggap aku seorang malas yang hanya ongkang-ongkang kaki. Aku tak peduli itu semua.
Akhirnya, mesin itu telah terselesaikan. Tapi, tiba-tiba saja aku gamang, ribuan Tanya bergelayut di hati dan menghantui pikiranku.
“Apakah mesin ini dapat bekerja sesuai harapanku, aku ingin mengujinya namun tak ada seseorang yang dapat membantu. Apa aku bisa kembali lagi ke masaku saat ini, atau mesin ini hanya dapat dipakai sekali jalan ? Dan apa yang akan ku lakukan untuk mengubah masa lalu, tak semudah itu mempengaruhi pikiran penguasa. Selain itu, apabila aku mengubah masa lalu, itu artinya aku menentang Tuhan, dan alasan inilah yang menghentikan proyekku dulu” kataku pada diriku sendiri.
Entahlah, aku tak tahu. Akupun hanya menatap nanar ke mesin itu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s